Rabu, 05 Desember 2012

Ayat – Ayat Tentang Kebaikan dan Keburukan


“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). ”(QS.Al-An’am:160)

“apa saja ni’mat yang kamu peroleh dari Allah, dan apa sajabencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia.Dan cukuplah Alloh menjadi saksi.”(QS. An-Nisa’: 79)
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang(pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yangbaik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”(QS.Hud : 114)
“Dan (ingatlah), hari diwaktu itu kami menghimpun mereka semuanya, kemudian kami berkata pada orang-orang musyrik:”Dimanakah sesembahan-sesembahan yang dahulu kamu katakan(sekutu-sekutu kami)”?”(QS. Al-An’am : 22)
“iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik(perbuatan maksiat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.”(QS. Al-Hijr : 39-40)
Segala sesuatu yang diciptakan dan digariskan oleh Allah untuk manusia pada dasarnya adalah baik, sedangkan apabila terjadi sesuatu yang buruk, semata-mata disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri. Orang yang berbuat suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala atau balasan dari Allah sekurang-kurangnya sepuluh kali-lipat, dan terus keatas sampai berlipat ganda bahkan sampai sebanyak mungkin. “Allah berfirman: Apabila hamba-Ku berkehendak akan mengamalkan suatu amalan yang jahat, maka janganlah kamu tuliskan itu alasannya sebelum dia kerjakan. Maka jika mereka kerjakan juga, tulisannya atasnya seumpamanya.Dan jika hendak mengerjakan suatu kebaikan, tetapi belum dikerjakannya, tuliskanlah baginya suatu kebaikan. Tetapi jika langsung dikerjakannya, tuliskan jugalah untuknya sepuluh kali-lipat sampai tujuh kali-lipat”.(HR. Bukhari dan Abu Hurairah)
Dalam surat An-Nisa’ ayat 79 tersebut terdapat dua hal yang harus diketahui :
Ø Pertama, bahwa sesuatu berasal dari sisi Allah, dalam arti bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan menggariskan aturan-aturan serta sunnah-sunnah untuk mencapainya dengan usaha dan pencarian. Dengan anggapan ini, maka segala sesuatu itu baik.
Ø Kedua, manusia terjerumus kedalam keburukan tidak lain disebabkan, dia lupa dalam mengetahui dan mengetahui sunnah-sunnah dan sebab-sebab itu. Sesuatu dikatakan buruk, sebenarnya disebabkan tindakan manusia itu sendiri. Jadi, hakikatnya bukan sesuatu itu yang buruk. Denagn demikaian, keburukan disadarkan kepada manusia, penyakit umpamanya, dikatakan buruk bagi manisia itu. Itu sebenarnya disebabkan manusia lalai mengikuti fitrah dalam masalah makanan seperti kekenyangan akibat menuruti hawa nafsunya, atau berlebihan dalam kepayahan(kelelahan), atau memang dingin dan panas yang sangat, dan lain sebagainya dari sebab-sebab yang semuanya dikarenakan salah memilih. Ketika ditimpa keburukan, hendaknya seseorang mencari sebab  pada dirinya sendiri, karena keburukan itu menimpanya disebabkan ketidaktahuannya tentang sunnah-sunnah yeng telah digariskan oleh Allah, berupa pencarian sebab-sebab mendapatkan manfaat dan menghindarkan bahaya dengan menjauhi sebab-sebabnya, kemudian memilih apa yang bermanfaat baginya dan menjauhkan apa yang dapat membahayakannya.
Dalam surat Hud ayat 114 tersebut merupakan perintah untuk melaksanakan shalat menurut cara yang lurus senantiasa mendirikan pada kedua ujung siang dan setiap hari pada bagian dari malam.
Serupa dengan ayat tersebut, ialah dari Allah SWT pada surat Thaha: “Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah diwaktu-waktu malam hari dan pada waktu-waktu siang hari, supaya kamu merasa senang.”(QS. Thaha : 130)
Tasbih disini bersifat umum, mencakup  shalat dan lainnya. Adapun ayat yang tegas mengenai waktu-waktu shalat yang lima adalah firman Allah ta’ala “maka bertasbihlah kepada Allah diwaktu kamu berada dipetang hari dan waktu kamu berada diwaktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji dilangit dan dibumi dan di waktu kamu berada di dipetang hari dan di waktu kamu berada diwaktu dzuhur”.(QS. Ar-Rum,30:17-18).
Kemudian, Allah menerangkan pula faedah dari hal tersebut dan hikmahnya, dengan firman-Nya:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami akan menghapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil), dan kami akan memasukkanmu ke tempat yang mulia(Surga)”.(QS. An-Nisa’: 31).
Dosa-dosa besar itu bisa dihapuskan kecuali dengan jalan taubat, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Muslim : “shalat lima waktu itu penghapus dosa-dosa yang dilakukan diantara shalat-shalat tersebut, selagi dihindari dosa-dosa besar”.
Barang siapa yang datang di akhirat menghadap Allah dengan sifat-sifat jahat yang telah tertanam dalam diri orang karena kufur atau berbuat perbuatan-perbuatan yang keji dan munkar, maka ganjaran siksaan yang akan diterimanya adalah setimpal dengan kejahatannya itu, sebab sudah sewajarnya bahwa suatu kejahatan meninggalkan bekas yang buruk dalam jiwa, maka itulah yang akan dibalas dengan adil oleh Allah.
Suatu kejahatan tidaklah dibalas dengan sepuluh kali-lipat siksaan. Dan orang yang tidak jelas kesalahannya tidak akan dihukum. Maka ayat ini memberikan kejelasan bagi kita bahwa sifat Rahman dan Rahim Allah lebih pokok daripada murka-Nya. Dan sifat adil-Nya adalah penyempurnaan bagi sifat Rahman dan Rahim-Nya.
Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Hurairah menceritakan perintah Allah kepada malaikat-malaikat yang mencatat amalan-amalan makhuk. Allah berfirman: “Apabila hamba-Ku berkehendak akan mengamalkan suatu amalan yang jahat, maka janganlah kamu tuliskan itu alasannya sebelum dia kerjakan. Maka jika mereka kerjakan juga, tulisannya atasnya seumpamanya.Dan jika hendak mengerjakan suatu kebaikan, tetapi belum dikerjakannya, tuliskanlah baginya suatu kebaikan. Tetapi jika langsung dikerjakannya, tuliskan jugalah untuknya sepuluh kali-lipat sampai tujuh kali-lipat



Sumber: Buletin Dakwah An-Nur, edisi 64, April 2012, Tahun 2 






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar